MODULPEMBELAJARAN
MATA KULIAH UTILITAS
“INSTALASI LISTRIK”

Disusun Oleh : Drs. Agus Efendi, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIKI DAN KEJURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
FKIP UNS
2010

BAB I
INSTALASI LISTRIK

A. Simbol Instalasi Listrik
Simbol teknik listrik bertujuan untuk menyingkat keterangan-keterangan dengan menggunakan gambar. Simbol listrik sangat penting untuk dipelajari dipahami karena hampir semua rangkaian listrik menggunakan simbol-simbol.
Gambar simbol untuk teknik telah diatur oleh lembaga normalisasi atau standarisasi. Beberapa lembaga yang menormalisasi simbol-simbol listrik antara lain :
1. ANSI : American National Standard Institute
2. JIC : Joint International Electrical Association
3. NMEA : National Manufacturer Electrical Assotiation
4. DIN : Deutche Industrial Norm
5. VDE : Verband Deutcher Elektrotechniker
6. NEC : National Electrical Code
7. IEC : International Electrical Commission.
Meskipun banyak lembaga yang mengeluarkan simbol listrik, namun dalam normalisasinya telah diatur sedemikian rupa sehingga suatu simbol tidak mungkin mempunyai dua maksud atau dua arti, begitu sebaliknya dua gambar simbol mempunyai satu maksud ( interpretasi ).

1. Instalasi Penerangan
a. Simbol-simbol Umum
Simbol umum terutama yang berkaitan dengan instalasi penerangan. Tabel berikut menunjukkan simbol listrik yang dipakai pada instalasi penerangan.

Simbol Arti

Sistem berfasa tiga dalam hubungan , Delta atau segitiga

Sistem berfasa dalam hubungan Y atau bintang

Sistem berfasa tiga dalam hubungan bintang dengan titik nol yang dibawa keluar. Pada umumnya tanda ini dipakai untuk menyatakan : Hubungan Gulungan motor-motor arus putar, transformator dan sebagainya. Misalnya pada plat-plat motor/dynamo listrik (lihat contoh) :
Volt : 380/220 Y / 

Simbol Arti

Gulungan mesin-mesin dan pesawat-pesawat. Tanda ini umum untuk kumparan, misalnya gulungan magnit dinamo, gulungan elektromagnit dan sebagainya.

“Tahanan OHM”
tanda disamping ini menunjukkan tahanan bebas induksi atau tahanan OHM biasanya dipakai dalam teknik arus kearah/arus lemah khususnya dalam teknik penerima/pemancar

Kondensator
Tanda umum untuk kondensator yang :
mempunyai nilai tetap atau istilah yang lain fixed capasitor
Tanda umum untuk kondensator yang nilainya dapat diubah-ubah (variable capasitor).

Hubungan Tanah
Tanda umum untuk hubungan tanah bagi semua peralatan listrik misalnya tiap motor listrik, tahanan asut, lemari penghubung logam, kompor listrik dsb, haus dihubungkan dengan tanah – untuk mencegah bahaya bagi pegawai yang melayani pada kesalahan isolasi yang mungkin timbul.

Tegangan Tinggi
Tanda tegangan tinggi ini biasanya dipasang pada tiang-tiang jarring jaring tegangan tinggi dan rendah maupun pada pintu-pintu sari gardu-gardu transformator.

Hantaran yang terdiri atas dua penghantar dengan fasa atau polaritet yang berlaianan.
Tanda ini umum untuk hantaran listrik biasanya tanda ini terdapat pada gambar-gambar, instalasi.

Hantaran berkutub dua, beserta penghantar.

Persilangan dua buah hantaran

Sambungan atau percabangan hantaran listrik.

Simbol Arti
¾ (o) Hantaran di dalam pipa
Tanda ini menyatakan bahwa hantaran tersebut diletakkan di dalam pipa yang berdiameter ¾ “ ( o )

Hantaran di dalam pipa diatas sela yang ditinggikan
Apabila para instalateur (pelaksana) sedang melakukan pemasangan di dalam ruang yang lembab dan berdebu maka hantaran pipa ini harus tahan air dan ditempatkan diatas sela-sela (tumpuan) yang ditinggikan.

Tanda ini menyatakan di mana hantaran itu naik.

Tanda ini menyatakan di mana hantaran itu turun ke bawah.

Hantaran terus menerus.
Tanda ini menyatakan dimana hantaran itu mendaki, menurun dan terus menerus

Penghubung berkutub satu untuk nominal 10 A.
Keterangan :
10 A ini menunjukkan bahwa kuat arus nominal yang mengalir secara terus menerus dapat dibebankan pada penghubung itu, yang tidak menimbulkan bahaya misalnya panas atau terbakarnya penghubung itu.

Penghubung berkutub ganda

Penghubung tarik berkutub satu

Penghubung kelompok (golongan)

Simbol Arti

Penghubung Tukar

Penghubung seri (deret)

Tanda untuk penghubung silang

Penghubung Kotak Maksimum
Tanda ini untuk penghubung kotak maksimum, dilengkapi dengan sebuah pemutus arus elektro-magnit dan ada kalanya dipakai sebagai pengganti sekering.

)
Kotak-kontak dinding (stop contact)
Tanda ini untuk stop contact dan dipakai sebagai penghubung pesawat-pesawat pemakai-pemakaian yang dapat dipindah-pindahkan tempatnya, misalnya lampu senja, seterika listrik, penghisap debu dan lain sebagainya.
) )
Kotak-kontak dinding majemuk
Kotak-kontak dinding majemuk, seperti dua, tiga atau empat buah stop contact dihubungkan menjadi satu.

Keamanan sekerup (sekering)
Tanda umum untuk keamanan lebur atau keamanan patron (sekering). Dengan menempatkan garis-garis lintang pada hantaran-hantaran kutub banyak dinyatakan dalam beberapa urat ditempatkan keamanan itu.
Sekering yang terkenal dalam dunia perdagangan yaitu patron diazed. (oleh siemens Schukert-Werke S.S.W.).
Adapun batas-batas amperenya :
6, 10, 15, 20, 25, 35, 50, 60, 80, 100, 125, 160, 200, 225, 260, 300 dan 350 A.
Bila kita lihat sebelah atas dari patron terdapat tanda-tanda pengenal dengan bermacam-macam warna yakni menurut kuat arus dari patron tersebut.
Misalnya : Hijau 6A, Merah 10A, Kelabu 16A dan lain sebagainya.

Papan pembagi atau Papan penghubung.
Tanda ini umum untuk papan pembagi pada gambar instalasi.

Lemari penghubung instalasi.
Lemari penghubung instalasi ini biasanya terbuat dari besi tuang atau bahan isolasi (misalnya bakelit) di mana di dalam lemari tersebut ditempatkan keamanan lebur (sekering) dan sebuah penghubung utama

Lemari baterai
Tanda ini umum untuk sebuah lemari baterai. Biasanya lemari baterai ini terdiri dari sejumlah lemari dari besi tuang (bahan isolasi bakelit) dimana ditempatkan keamanan-keamanan lebur. Dan ini kita namakan lemari pembagi cahaya.

Lampu 100 W, disambung pada golongan 2.
Tanda umum untuk suatu titik cahaya tiap-tiap tititk sambungan pada gambar instalasi harus diberi nomor golongan, dimana titik cahaya ini disambung serta pemakaian tenaga dinyatakan dalam Watt.
Dari tanda-tanda instalasi di atas dapat diberikan penjelasan tentang penggunaan dari masing-masing penghubung yang dihubungkan dengan sebuah beban.

1) Penghubung Deret (Seri)
Penghubung seri ini gunanya untuk memutuskan dan menghubungkan dua kelompok lampu secara bergantian misalnya seperti terdapat pada kerona-cahaya dengan tiga buah lampu atas (penerangan langit-langit) dan sebuah lampu bawah.
Demikianlah jalannya penghubung itu sehingga lampu yang di bawah dan lampu-lampu atas dapat menyala sendiri-sendiri, dan seluruhnya dapat pula dihidupkan pada waktu yang bersamaan.
Perlu diingat oleh para instalateur bahwa pengertian dari penghubung seri ini bukanlah berarti Lampu-lampu itu dihubungkan dalam keadaan seri. Tetapi kita mengadakan hubungan dalam seri (kelompok-kelompok lampu).
2) Penghubung Tukar
Apabila kita menghendaki melayani satu lampu atau satu golongan lampu dari dua tempat, misalnya dalam gang-gang, dalam kamar-kamar dengan dua pintu, maka kita pakai dua hubungan bertukar.
3) Penghubung Silang
Apabila kita harus dapat melayani satu lampu atau satu golongan lampu yang lebih dari dua tempat, maka kita pakai penghubung silang, waktu hendak memasang diingat, bahwa penghubung yang pertama dan penghasilan haruslah penghubung-penghubung tukar, penghubung-penghubung diantaranya adalah hubungan silang.

b. Macam-acam Hubungan Saklar
Selanjutnya untuk gambar macam-macam sambungan saklar yang banyak digunakan dalam Instalasi penerangan dapat dilihat pada tabel berikut :

B. Bahan Instalasi Listrik
Bahan instalasi listrik dapat dibedakan atas:
1. Konduktor; bahan yang dapat menghantarkan arus listrik contoh : tembaga, kuningan, perak, emas, benda cair, larutan elektrolit, tubuh manusia, tanah basah.
2. Isolator (bahan penyekat); bahan yang tidak dapat menghantarkan aliran listrik contoh bahan isolator dalam instalasi listrik : porselin, kaca, kertas, keramik dll.
3. Semi konduktor; bahan bersifat setengah menghantarkan arus listrik. Banyak dipakai untuk membuat bahan komponen elektronika : diode, transistor dan IC (Integrated Circuit)

Gambar 1, Bahan Isolator dalam Instalasi Listrik

1. Klasifikasi Macam Kabel Menurut Bahan Isolasi
Pada umumnya kabel-kabel yang banyak kila jumpai di pasaran memiliki isolasi baik yang terbuat dari karet maupun plastik dengan berbagai bentuk dan ukurannya. Selain isolasi ada juga kabel-kabel yang dilengkapi dengan semacam perisai dan bentuk pengaman lainnya. Jenis dan macam penghantar yang akan dibahas di sini adalah jenis penghantar yang sering dipakai pada jaringan instalasi rumah tinggal, kantor dan bangunan sejenisnya dengan pasangan tetap. Di antara jenis kabel tersebut adalah Snur, NGA, NYA, NYM.
Sebelum kita membahas kabel-kabel tersebut perhatikan daftar seperti di bawah ini:
Nomenklatur Kabel menurut SPLN.

Huruf Keterangan Kabel

N : Kabel standar dengan inti tembaga.
NA : Kabel standar dengan aluminium sebagai penghantar.
Y : Isolasi PVC.
G : Isolasi karet.
A : Kawat berisolasi.
Y : Selubung PVC Y pada akhir Nomenklalur.
M : Selubung PVC.
R : Kawat baja bulat (perisai).
Gb : Kawat pipa baja (perisai).
B : Pipa baja.
I : Untuk isolasi tetap di luar jangkauan tangan.
Re : Penghanlar padat bulat.
Rm : Penghantar bulat berkawat banyak.
Se : Penghantar bentuk pejal (padat).
Sm : Penghanlar dipilin bentuk sektor.
F : Penghantar halus dipintal bulat.
Ff : Penghantar sangat fleksibel.
Z : Penghantar z.
D : Penghantar 3 jalur yang di lengah sebagai pelindung.
H : Kabel untuk alat bergerak.
Rd : Inti dipilih bentuk bulat.
Fe : Inti pipih.
-1 : Kabel dengan sistern pengenal warna urat dengan hijau-kuning.
-0 : Kabel dengan sistem pengenal warna urat tanpa hijau-kuning.
Sebagai contoh :
Sebuah penghantar/ kabel mempunyai spesifikasi.

NYHGbY 4×100 mm/0,6/1KV
Artinya kabel tersebut memiliki ketentuan sebagai berikut :
N : Kabel jenis standar dengan penghantar tembaga
Y : Mempunyai isolasi PVC
H : Kabel alat bergerak
Gb : Kawat pita baja perisai
Y : Berisolasi PVC bagian luar
4x : Mempunyai 4 saluran merah – kuning – biru – hitam
100 mm2 : Tiap saluran berpenampang masinbg-masing 100 mm2
0,6 / 1 KV : Arus yang diijinkan 600 amper, tegangan maksimal 1000 volt
2. Kabel NGA
Kabel NGA termasuk jenis kabel yang banyak dipergunakan sebagai penghantar dalam instalasi listrik. Arti NGA adalah sebagai berikut:
N : Normal artinya penghantar terbuat dari tembaga
G : Gummi artinya penyekat atau isolasinya terbuat dari karet
A : Ader artinya terdiri dari satu penghantar
Jenis kabel NGA saat ini sudah jarang dipakai, hal ini disebabkan karena daya tahannya tidak tahan lama, selain harganya mahal, sehingga tidak diproduksi lagi. Kabel NGA seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 2, Kabel NGA

3. Kabel NYA
Kabel NYA adalah jenis kabel yang banyak dipergunakan dalam pemasangan instalasi karena selain harganya murah juga mudah dalam pengerjaannya dan berperan mengganti kabel NGA yang sudah tidak diproduksi lagi. Istilah NYA memiliki arti sebagai berikut :
N : Normal artinya penghantar terbuat dari tembaga
Y : Isolasi PVC yaitu Pollyvinyl Chlorida
A : Ader artinya terdiri dari satu penghantar
Seperti juga kabel lainnya, kabel NYA tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk fisik dari kabel NYA adalah seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 3, Kabel NYA

4. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2
Kabel NYM berisi dua atau tiga kabel jenis NYA. Pengertian istilah NYM sebagai berikut :
N : Normal artinya penghantar dari tembaga.
Y : Isolasi PVC yaitu polyvynyl chlorida
M : Selubung kabel terbuat dari PVC
3 x 2,5 mm2: Kabel tersebut mempunyai 3 penghantar yang masing-masing berukuran 2,5 mm2.
C. Jenis Sakelar
Dalam prakteknya kita mengenal bermacam-macam jenis sakelar yang biasa dipakai pada instalasi listrik penerangan rumah, bangunan sekolah atau sejenisnya.
Jenis-jenis sakelar tersebut adalah :
1. Sakelar tunggal
2. Sakelar berkutub ganda
3. Sakelar berkutub tiga
4. Sakelar kelompok
5. Sakelar deret (seri)
6. Sakelar tukar
7. Sakelar silang

1. Sakelar Tunggal
Sesuai dengan namanya sakelar ini berfungsi tunggal artinya hanya dapat menyalakan dan memadamkan sebuah lampu. Pada sakelar tunggal hanya terdapat 2 titik hubung yang menghubungkan penghantar fasa dan beban atau lampu. Gambar sakelar tunggal seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4, Sakelar Tunggal

Dipasaran dapat dijumpai bentuk sakelar tunggal atau ganda yang pemasangannya dikombinasikan dengan stop-kontak disesuaikan dengan kebutuhan pada saat ini,seperti garnbar di bawah ini :

Gambar 5, Kombinasi Sakelar dan Stop-Kontak
2. . Sakelar Berkutup Ganda
Sakelar ini dilengkapi dengan empat titik hubung untuk menbghubungkan penghantar fasa dan nol. Sakelar ini digunakan untuk memutuskan dan menghubungkan fasa dan nol secara bersama-sama sehingga memberikan factor keamanan bagi pemakai.. Sakelar ini sering digunakan pada box sekering / fasa.

Gambar 6, Sakelar Berkatup Ganda

3. Sakelar Berkutub Tiga
Sakelar jenis ini memiliki enam titik hubung yang berfungsi menghubungkan fasa ke beban. Pada umumnya sakelar ini digunakan sebagai sakelar untuk saluran tiga fasa.

Gambar 7, Sakelar Berkutub Tiga
4. Sakelar Kelompok
Sakelar kelompok pemasangannya harus disesuaikan dengan kebutuhan misalnya mematikan dan menghubungkan dua atau tiga buah lampu namun lampu tersebut tidak dapat dinyalakan bersamaan.

Gambar 8, Sakelar Kelompok
5. Sakelar Deret (Seri)
Sakelar deret adalah sakelar yang dapat berfungsi ganda yaitu dapat memutuskan dan menghubungkan sebuah lampu atau lebih secara bergantian atau bersama-sama. Lampu jenis ini banyak digunakan dalam ruang tamu, ruang tidur atau lampu gang.
Sakelar seperti ini pada saat sekarang sudah sangat sulit dijumpai, seandainyapun ada, bentuknya sudah lain yaitu berupa sakelar yang terdiri dari dua buah sakelar tunggal yang dikemas dalam satu kotak.

6. Sakelar Tukar
Sekelar tukar biasanya disebut juga sakelar hotel. Sakelar jenis ini banyak dipergunakan di hotel-hotel sehingga Sakelar hotel ini hanya dapat menghubungkan lampu atau kelompok lampu secara bergantian.sakelar ini disebut sakelar hotel.

Gambar 9, Sakelar Tukar

7. Sakelar Silang
Seandainya kita ingin melayani satu lampu atau golongan lampu yang ada di dua tempat, maka kita gunakan sakelar silang.
Pada waktu memasang supaya diingat bahwa penghubung pertama dan terakhir dihubungkan dengan penghubung seperti gambar di bawah ini:

Gambar 10, Sakelar Silang
D. Klasifikasi Sakelar
Yang dimaksud dengan klasifikasi di sini adalah klasifikasi dalam hal pemasangan dan cara bekerjanya sakelar.

1. Klasifikasi Sakelar Berdasarkan Pemasangan
Kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat bermacam-macam pemasangan sakelar. Di antaranya ada sakelar yang dipasang di dalam tembok dan sakelar yang dipasang di luar tembok.

a. Pemasangan Di Luar Tembok atau Out Bow
Bila kita hendak memasang sakelar di luar tembok, rnaka terlebih dahulu kita harus memasang reset atau tempat dudukan sakelar. Pada umumnya roset dibuat dari bahan kayu dan bentuknya bulat disesuaikan dengan bentuk sakelar. Dalam pemasangan harus betul-betul diperhatikan kelurus-annya karena hal ini akan menambah keindahan ruangan.

Gambar 11, Saklar Out Bow

b. Pemasangan di Dalam Tembok atau In Bow
Pemasangan sakelar di dalarn tembok memerlukan bahan tambahan yaitu mangkuk sakelar yang terbuat dari bahan PVC. Sakelar jenis ini banyak dijual di pasaran dengan berbagai macam bentuk dan selera dari pemakai. Kebanyakan orang cenderung menggunakan sakelar ini sebab dalam pemasang-annya selain pipanya tidak kelihatan juga akan memberikan keindahan pada ruang di mana sakelar tersebut dipasang.

Gambar 12, Saklar In Bow

2. Klasifikasi Sakelar Berdasarkan Prinsip Kerjanya
Seperti telah dijelaskan di atas fungsi sakelar adalah untuk memutuskan dan menghubungkan arus listrik dari fasa ke beban. Berdasarkan alal penghubungnya maka sakelar dapat dibagi menjadi :
a. Sakelar putar
b. Sakelar jungkit
c. Sakelar tarik
d. Sakelar tekan
e. Sakelar tuas

a. Sakelar Putar
Sakelar putar termasuk sakelar jenis lama di mana cara menggunakannya diputar pada bagian tombol pemutarnya. Pada saat sekarang sakelar jenis ini sudah jarang dipakai lagi, baik pada instalasi rumah tunggal maupun bangunan umum lainnya. Pemakaian sakelar putar biasanya digunakan pada box sekering dan pemasangannya biasanya dipasang di luar tembok. Bentuk sakelar putar adalah seperti tergambar di bawah ini:

Gambar 13, Saklar Putar
b. Sakelar Jungkit
Perlu diketahui bahwa sakelar jenis ini banyak dipakai dalam instaiasi masa sekarang dan banyak digemari pemakai karena bentuknya beraneka ragam dan dibuat dengan penampilan yang indah dan mungil. Selain daripada itu sakelar jungkit sangat mudah dafam pemakaiannya. Dalam pemakaian-nya ada yang dipasang di luar tembok dan ada juga yang dipasang di dalam tembok.
Untuk yang ditanam dalam tembok diperlukan kornponen tambahan yaitu semacam mangkuk yang terbuat dari bahan PVC, sedangkan untuk yang dipasang di luar tembok diperlu¬kan alat tambahan yang dipakai sebagai dudukan yang disebut reset. Roset ini dibuat dari kayu yang bentuknya disesuaikan dengan bentuk sakelar yang dipasang.

Bentuk sakelar jungkit seperti dalam gambar di bawah ini:

Gambar 14, Saklar Jungkit

c. Sakelar Tarik
Dalam kehidupan sehari-hari barangkali suatu waktu kita memerlukan dua macam jenis penerangan yaitu penerangan terang dan penerangan redup yang dapat dinyalakan secara bergantian. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan alat yang disebut sakelar tarik. Jenis sakelar ini biasanya terdapat pada fitting lampu yang dapat digerakkan dengan cara menariknya dengan seutas tali.

E. Kotak Sambung
Dalam pekerjaan instalasi, untuk suatu keperluan tertentu biasanya ada pemasangan kawat yang harus disambung atau dicabangkan. Kawat yang disambung menurut ketentuan peraturan instalasi tidak diijinkan berada di dalam pipa karena dikhawatirkan sambungan akan putus pada waktu kawat direntang pada waktu dimasukkan dalam pipa, sebab bila hal ini terjadi maka akan berakibat timbulnya hubungan pendek atau bahaya kebakaran.
Untuk menghindari hal ini maka penyambungan._kawat harus dilakukan dalam kotak yang disebut kotak hubung. Bentuk sambungan kawat ada beberapa macam, misalnya sambungan lurus, sambungan cabang dan sambungan cross. Untuk memenuhi kebutuhan sambungan tersebut, maka perlu disediakan beberapa macam jenis kotak sambung.
Jenis kotak sambung yang sering kita jumpai dalam instalasi listrik adalah :
1. Kotak sambung cabang dua
2. Kotak sambung cabang tiga
3. Kotak sambung cabang empat

1. Kotak Sambung Cabang Dua
Dalam prakteknya kotak sambung cabang _dua digunakan untuk penyambungan lurus. Bentuk kotak sambung cabang dua seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 15, Kotak Sambung Cabang Dua

2. Kotak Sambung Cabang Tiga
Jenis kotak sambung cabang tiga pada umumnya dipergunakan untuk sambungan cabang atau percabangan. Percabangan biasanya dilakukan bita akan memasang stop kontak atau sakelar.

Gambar 16, Kotak Sambung Cabang Tiga

3. Kotak Sambung Cabang Empat
Kotak sambung cabang empat biasanya dipergunakan untuk sambungan bentuk cross atau cabang empat. Bentuk kotak sambung cabang empat seperti gambar dibawah ini :

Gambar 17, Kotak Sambung Cabang Empat
F. Teknik Penyambungan Kabel Listrik
Dalam pemasangan instalasi listrik biasanya banyak pekerjaan yang berhubungan dengan sambung menyambung kabel. Yang perlu diperhatikan pada waktu menyambung kabel adalah hasil penyambungan harus kuat, rapih dan balk ditinjag dari segi teknisnya.
Dalam menyambung kabel, sebelum kabel disambung biasanya kabel dikupas dulu. Pengupasan kabel perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Pengupasan kabel dapat dilakukan seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 18, Teknik Penyambungan Kabel Listrik

Setelah kabel dikupas barulah dilakukan pekerjaan pe-nyambungan. Cara penyambungan kabel dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara dan berdasarkan teknisnya ada beberapa macam cara penyambungan kabel di antaranya: Sambungan ekor babi, sambungan punter, sambungan bolak-balik, sambungan bercabang

1. Sambungan Ekor Babi
Sambungan seperti ini merupakan teknik penyambungan yang paling sederhana dan mudah dikerjakan. Sambungan seperti ini pada umumnya banyak dilakukan pada penyambungan langsung yang dilakukan pada kotak sambung dan hasil penyambungannya diisolasi dengan lasdop. Caranya adalah seperti pada gambar di bawah ini;

Gambar 19, Sambungan Ekor Babi
Seperti terlihat pada gambar kedua ujung kabel yang akan disambungkan dijadikan satu, kemudian diputar dengan tang kombinasi sampai kuat. Untuk merapikan hasil sambungan potonglah ujung sambungan yang tidak diperlukan. Selanjutnya ujung yang sudah rapih ditutup dengan lasdop.

2. Sambungan Puntir
Sambungan puntir pada umumnya dilakukan untuk me-nyambung dua buah kabel yang akan direntang. Dalam pekerjaan instalasi adakalanya terpaksa menyam¬kabet yang akan direntang karena adanya pertimbangan tertentu seperti untuk penghernatan bahan atau karena adanya ‘solasi kabel yang cacat yang terpaksa kabel tersebut harus untuk kemudian disambung kembali. Penyambungannya adalah seperti gambar di bawah ini.

Gambar 20, Sambungan Puntir

Seperti terlihat pada gambar di atas, untuk mendapatkan hasil puntiran yang baik, sebaiknya dilakukan dengan meng-gunakan tang kombinasi agar hasilnya kuat dan tidak longgar. Setelah penyambungan selesai. selanjutnya hasil penyam¬bungan tersebut kemudian diisolasi dengan seal tape (isolasi band).

3. Sambungan Bolak-Balik
Tujuan dari penyambungan bolak-balik pada dasarnya sama dengan penyambungan puntir yaitu untuk menghubungkan 2 kabel yang akan direntang. Cara penyambungan ini akan menghasilkan sambungan yang lebih kuat terhadap gaya rentang dan tarikan. Sambungan diberi isolasi seal tape. Cara penyambungannya dilakukan seperti gambar di bawah ini :

Gambar 21, Sambungan Bolak-Balik

4. Sambungan Bercabang
Dalam jaringan listrik sering kita temukan dalarn peng-hantar yang panjang, selain sambungan lurus juga ditemukan sambungan cabang. Sambungan cabang biasanya dilakukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas agar menghemat penggunaan kabel dan praktis dalam pengerjaannya. Dalam membuat sambungan cabang harus dilakukan dengan baik dan benar agar hasil penyambungan terjamin kekuatannya. Cara mengerjakan penyambungan percabangan dapat di-lakukan seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar. Sambungan bercabang

Gambar 22, Sambungan Bercabang

G. Alat Perkakas Instalasi Listrik
Peralatan yang sering diguinakan dalam instalasi listrik meliputi:

1. Obeng
Berdasarkan kegunaannya terdapat beberapa macam obeng di antaranya; Obeng biasa, Obeng offset, Obeng listrik, Obeng tekan, Obeng kembang, Obeng trimmer, Obeng kayu. Berikut ini adalah gambar salah satu dari macam obeng biasa:

Gambar 23, Obeng Biasa

2. Palu Paku
Dalam pekerjaan instalasi listrik peranan palu tidak kalah pentingnya dibanding dengan peralatan lainnya. Fungsi palu jenis ini dapat untuk memukul paku dan sekaligus membenamkannya. Bentuk palu paku seperti pada garnbar di bawah ini:

Gambar 24, Palu Paku

Seperti terlihat pada gambar di atas, untuk memukul paku dapat digunakan bagian mukanya dan sebaliknya untuk mencabut paku digunakan bagian cakarnya. Perlu diketahui bahwa pekerjaan instalasi Iistrik banyak berhubungan dengan kayu sehingga mau tidak mau harus meng¬gunakan paku sebagai contoh misalnya memasang palang kayu untuk dudukan kawat penghantar, memasang dudukan kotak sekering, memasang roset kayu pada dinding tembok dan Iain-lain. Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut perlu digunakan palu kayu.
3. Palu Bulat
Palu jenis ini pada umumnya dipergunakan pada pekerjaan kerja bangku atau pekerjaan pandai besi. Bentu palu bulat seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 25, Palu Bulat

Seperti terlihat pada gambar di atas, pada palu bulat bagian puncaknya berbentuk bulat, dengan maksud agar palu tersebut dapat dipakai untuk membuat bentuk cekungan atau bentuk tidak rata, misalnya membuat tangki atau membuai perabot dapur dan Iain-lain.
Kemudian bentuk bagian bawahnya adalah seperti kebanyakan bentuk palu lainnya yaitu berbentuk bulat dan datar. Bentuk seperti ini dapat dipakai untuk pekerjaan memukul atau meratakan pelat-peiat pada bengkel pelat dan sejenisnya. Dalam pekerjaan memasang instalasi Iistrik palu jenis ini banyak dipakai misalnya untuk memasang paku, menarik kabel dan macam-macam pekerjaan lainnya.

4. Palu Keling
Palu keling biasanya banyak dipakai dalam pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan pelat. Sesuai dengan namanya palu jenis ini dapat dipakai untuk mengeling yaitu pekerjaan waktu menyambung pelat dengan menggunakan paku keling. Sebelum paku keling dipasang kedua permukaan pelat dilubangi dengan menggunakan bor dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran paku keling. Setelah dilubangi barulah paku keling dimasukkan dalam lubang tersebut dan kemudian paku keling bagian belakangnya dipukul dengan palu sampai seluruh permukaan kedua pelat tersebut kuat. dengan adanya perkembangan teknologi seperti sekarang ini pekerjaan keling-mengeling, dapat dilakukan dengan peralatan yang modern yaitu menggunakan alat keling yang disebut Riveting Machine. Dengan menggunakan alat rivet hasil kelingan kelihatan lebih baik daripada dengan menggunakan alat keling biasa dan permukaannya tidak ada goresan bekas terpukul palu.

Gambar 26, Palu Keling

5. Palu Karet
Sesuai dengan namanya palu karel bagian kepalanya dibuat dari bahan karet yang keras dan kenyal. Palu karet ini pada umumnya banyak dipergunakan dalam pekerjaan bengkel pelat. Dengan menggunakan palu karet yang keras dan kenyal ini, hasil pemukulannya tidak meninggalkan bekas atau gores¬an pada benda kerjanya. Bentuk palu karet seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 27, Palu Karet
6. Palu Plastik
Palu jenis ini banyak dipergunakan pada bengkel-bengkel motor atau sejenisnya. Sesuai dengan namanya palu plastik pada bagian kepalanya dibuat dari plastik yang sifatnya keras dan kenyal hampir sama dengan palu karet. Dengan menggunakan palu plastik ini pekerjaan-pekerjaan seperti mengeluarkan komponen-komponen mesin tidak akan mengalami kerusakan akibat kena pukulan.

7. Jenis Tang
a. Tang Kombinasi
Bentuk tang kombinasi seperti gambar di bawah ini

Gambar 29, Tang Kombinasi

Seperti terlihat pada gambar di atas tang kombinasi terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1) Bagian depan atau bagian mulut dapat dipergunakan untuk memegang benda, untuk memuntir kabel/kawat dan menarik kabel.
2) Bagian tengah samping yaitu bagian yang tajam menye-rupai gunting dapat dipergunakan untuk memotong kabel, kawat atau isolasi.
3) Bagian belakang yaitu bagian pemegang. Biasanya bagian ini dilapisi dengan bahan isolasi yang terbuat dari karet atau plastik dengan maksud agar para pemakainya tidak terkena aliran listrik.
Catatan :
Untuk menjaga agar tidak tersengat aliran listrik dan menjaga keselamatan kerja dalam melakukan pekerjaan instalasi listrik hendaknya aliran listrik yang berada pada instalasi tersebut dimatikan dulu melalui kontak sekeringnya.

b. Tang Biasa
Tang jenis ini pada umumnya dipergunakan hanya untuk memegang benda di saat tangan kita sudah tidak mampu memegangnya atau untuk memuntir kawat pada pekerjaan instalasi.

Gambar 30, Tang Biasa

Seperti terlihat pada gambar di atas, tang tersebut biasanya terdapat-dalam suatu kemasan perkakas listrik yang disebut tool-kit atau tool-set seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar. Tool-kit

Gambar 31, Tool-Kit

Semua perkakas seperti pada gambar di atas selain dapat digunakan dalam pekerjaan instalasi juga dapat digunakan dalarn pekerjaan elektronika.

8. Alat Megger
Selain multimeter dalam pekerjaan instalasi diperlukan jenis alat ukur lain yang disebut Megger seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 32, Megger
Megger termasuk alat ukur presisi yang dapat digunakan untuk mengukur tahanan dalam batas tidak terhingga. Dengan menggunakan megger, pengukuran suatu instalasi hasilnya akan lebih baik daripada dengan menggunakan multi¬meter sebab selain dapat mengetahui adanya hubungan singkat, juga dapat mengetahui adanya suatu kebocoran yang terjadi pada penghantar ataupun pipa pelindung. Hal ini tidak dapat dilakukan apabila menggunakan alat ukur multimeter.

a. Cara Menggunakan Megger
Dimisalkan kita akan mengukur hubungan antara dua peng-hantar yaitu penghantar fasa dan penghantar nol seperti pada gambar di bawah ini:

.

Gambar 33, Cara Menggunakan Megger

b. Cara Pengukuran
• Hubungkan probe A dari megger pada penghantar fasa dan probe B pada penghantar nol. Sesudah itu megger diputar.
• Kemudian perhatikan skala meter, bila megger diputar jarum penunjuk diam dan tidak bergerak, berarti kedua
penghantar tersebut baik dan aman atau dengan kata lain tidak terjadi hubungan singkat.
• Sebaliknya bila megger diputar jarum penunjuk bergerak mendekati harga nol berarti pada kedua penghantar ter¬sebut terjadi hubungan singkat.
• Untuk lebih jelasnya klasifikasi pengukuran dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Bila jarum penunjuk bergerak dan penyimpangannya besar berarti pada kedua penghantar tersebut terdapat hubungan singkat.
2) Bila jarum penunjuk bergerak dan penyimpangannya sedikit berarti pada kedua penghantar tersebut terjadi kebocoran. Kebocoran tersebut bisa saja terjadi akibat isolasi dari penghantar yang kurang baik. Kebocoran akan mengakibatkan cepat terjadinya panas yang bila dibiarkan lama-lama akan menimbulkan kebakaran.
3) Bila jarum penunjuk diam atau tidak bergerak sama sekali berarti kedua penghantar tersebut baik dan aman.

H. Instalasi dan Pemasangan
Dalam memasang instalasi listrik rumah tinggal diperlukan pengamanan instalasi yang sesuai dengan peraturan-peraturan umum instalasi listrik yang berlaku. Untuk pengamanan instalasi listrik diperlukan komponen alat pengamanan seperti : sekering, MCB (Magnetic Contactor Break). Sekering berfungsi membatasi arus listrik yang mengalir atau pengaman terhadap adanya hubungan singkat dalam instalasi listrik. MCB pada prinsipnya sama dengan sekering berfungsi sebagai pembatas daya yang terpasang dalam jaringan instalasi listrik.Ukuran sekering dinyatakan dalam Amper (A). Sedangkan MCB dinyatakan dalam VA (Volt Ampere) misal kan : 450 VA, 900 VA, 1300 VA sampai 2200VA dan seterusnya.
Secara keseluruhan komponen pendukung dalam pemasangan instalasi listrik diperlukan :
• Meter Kwh atau Kilowattjammeter yang digunakan untuk mengukur jumlah energi listrik yang digunakan pelanggan selama suatu periode waktu,
• MCB
• Sekering dan Sakelar Putar
• Kotak box pelindung
• Kawat Arde (Ground) atau kawat hubungan tanah
Berikut ini komponen yang digunakan dalam instalasi listrik :

Meter Kwh Sekering dan Sakelar Putar MCB

Gambar 34, Komponen Instalasi Listrik

Untuk memahami jalur instalasi secara lebih detail digambarkan sebagai berikut :

Gambar 35, Bagan Pelayanan Listrik Rumah Tinggal

Gambar 36, Bentuk Pelayanan Listrik Rumah Tinggal

Berikut ini digambarkan susunan masuknya listrik ke rumah tinggal :

Gambar 37, Susunan Masuknya Listrik Rumah Tinggal

Contoh pemasangan instalasi listrik;

Gambar 38, Contoh Instalasi Listrik Rumah Tinggal (A)

Gambar 39, Contoh Instalasi Listrik Rumah Tinggal (B)

I. Instalasi Penangkal Petir
Petir adalah salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Kekuatan petir yang pernah tercatat adalah mulai dari ribuan amper sampai 200.000 amper atau sama dengan kekuatan yang dibutuhkan untuk menyalakan 500 ribu lampu bohlam 100w.
Meskipun arus petir hanya sesaat kira-kira selama 200 micro-detik tapi hasil kerusakan yang ditimbulkan sangat luar biasa. Effek dari serangan langsung sangat jelas terlihat, mulai dari kerusakan bangunan, kebakaran sampai bahaya kematian bagi manusia.
Selain itu, pada saat petir menyambar akan ada loncatan muatan listrik ke benda yang bersifat konduktor disekitar pusat hantaman. Loncatan ini bahkan bisa mengalir kemana-mana hingga puluhan kilometer Untuk itu, diperlukan penangkal petir yang sangat handal terutama untuk gedung, fasilitas umum dan pusat bisnis yang mengandalkan komputer atau peralatan elektronik untuk seluruh kegiatan bisnisnyanya.
Ada 4 kriteria yang harus diperhatikan dalam sistim penangkal petir untuk dapat mengikuti standar dunia yang telah teruji:
1. Jaringan “Air Termination”,
2. Penghantar/down conductors ,
3. Jaringan pembumian,
4. Bonding untuk mengindari “side flashing” .
Berikut disajikan gambaran pemasangan instalasi penangkal petir dengan system “Rein Power Protection System (RPPS)”.

Gambar 40, Instalasi Penangkal Petir Sistem RPPS

Leave a Reply